Kegiatan tuk korban merapi

Selasa, 10 Mei 2011

Bantuan Peralatan sekolah untuk korban Merapi

Bencana erupsi gunung Merapi telah berlalu 6 bulan. Namun hingga saat ini ancaman bahaya sekunder gunung Merapi berupa banjir lahar dingin masih terus menghantui korban yang hingga saat ini masih tinggal di Selter. Hingga saat ini mereka belum bisa mengarap lahan pertaniannya karena tumpukan lahar dingin dampak erupsi merapi. Begitu juga tentang bagaimana nasib mereka ke depan pun hingga saat ini masih belum jelas. Apakah mereka dapat kembali mengarap lahan pertanian miliknya dan membangun rumah mereka juga belum ada kejelasan. Memang dari pihak pemerintah sudah menetapkan daerah kawasan rawan Bencana III ( KRB III). Namun untuk mencabut dan memindahkan mereka dari daerah asal mereka tempat dimana mereka di lahirkan dan di besarkan tidaklah mudah. Membutuhkan kesabaran dan pendekatan  bersifat yang kontinyu, namun jangan mengedepankan pendekatan yang bersifat refresif seperti yang biasa di lakukan oleh pemerintah untuk menghadapi masyarakat, dengan menggunakan kekuatan militer.

Karena pendekatan refresif tidak akan menyelesaikan masalah, namun akan semakin memperkeruh swasana yang saat ini masih tidak menentu. Selain itu juga, akan menambah luka, penderitaan kepada korban erupsi merapi yang saat ini harus kembali memulai kehidupan mereka dari nol lagi. Mereka sudah menderita, jangan tambah penderitaan mereka dengan penderitaan baru. Namun mereka butuh bimbingan dan uluran tangan yang bersifat membangun bukan melemahkan, agar mereka dapat segera bangkit dari musibah yang mereka alami.

Selain itu juga, perlu ada pemikiran dan solusi bagi mereka bagimana untuk kedepannya. Mengingat siklus letusan gunung merapi yang setiap 2-5 tahun sekali mengalami erupsi. karena bila hal ini kita diamkan saja tanpa ada solusi yang tepat, permasalahn yang mereka hadapi tidak akan pernah usai, dan bukan tidak mungkin di letusan merapi yang akan datang, mereka yang pada letusan kali ini selamat, akan menjadi korban berikutnya. Ibarat kata " tinggal menunggu giliran". Memanag soal hidup dan mati kita yang menentukan adalah yang maha kuasa pemilik alam semesta ini. Namun bila ada antisipasi dan pemecahan yang baik, maka jatuhnya korban jiwa sia-sia akan dapat di hindari dan di minimalisir. 

Jogja, 11 Mei 2011
Hormat Saya
Indra hastono

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar